Jumat, 30 Agustus 2013

Konser Duo Rock Rally Jamrud & Skid Row

Konser Duo Rock Rally Jamrud VS Skid Row

Selain kedatangan band besar dari acara Hammersonc, konser tunggal Aerosmith, Indonesia kembali di kejutkan dengan acara konser Duo Rock Rally Jamrud VS Skid Row rencana Akan tur 6 kota di Indonesia yang segera digelar pada bulan juni, Rock legend Wind Mild Time To Win mengungkapkan pada status terbaru mereka. Kota-kota yang akan di hampiri salah satunya Yogya, Solo, Surabaya, Malang, Jakarta & Bali dan tiket sekita Rp. 30.000 s/d Rp. 50.000.

Berikut pernyataan dari dari panitia pada status terbarunya " Jangan lupa pada nabung (perkiraan HTM antara 30rb s/d 50rb) untuk nonton konser Duo Rock Rally Jamrud & Skid Row di bulan Juni dgn rencana lokasi tour : Yogya, Solo, Surabaya, Malang, Jakarta & Bali ... Keep Rock .. Time to Rock ... Time to WIN \m/"

Selasa, 12 Juni 2012


Win Mild Rock Reborn Jamrud, Obat Rindu Jamers


Jamrud


Win Mild Rock Reborn Jamrud, Obat Rindu Jamers


Kapanlagi.com - Grup band legendaris Jamrud menggelar konser bertajuk Win Mild Rock Reborn Jamrud di Stadiun Kridosono Yogjakarta, Sabtu (07/04) malam. Konser tersebut juga menandai kembalinya Krisyanto sebagai sang vokalis Jamrud. Menurut salah satu media relation Jamrud, Andre Stroo, konser Jamrud dipersembahkan bagi Jamers yang sudah lama menanti kembalinya sang frontman Jamrud.
"Konsernya bisa 3 jam, karena memang banyak yang akan diberikan Jamrud malam ini, album the best dan lagu-lagu Jamrud yang mungkin akan dirilis, ditunggu saja," ujar Andre saat menemani wartawan di lobi hotel, Yogjakarta (07/04).
Kembalinya Krisyanto ke Jamrud menjadi nilai lebih untuk para Jamers. Tak hanya Jamers lokalan yang akan memanaskan stadion Kridosono, tapi seorang Jamers, Ipung yang telah lama bekerja di Jepang pun berencana akan menjadi saksi sejarah kembalinya grup band legendaris pelantun Surti Tejo ini.
Walaupun tidak mengenakan aksesoris grup band Jamrud, Ipung yang sempat ditemui di Bandara Adi Sucipto, Yogjakarta mengaku akan menjadi bagian dari sejarah kembalinya Jamrud di belantika musik Indonesia.
"Ini lagi pulang, malam ini kata teman saya ada konser Jamrud di Jogja, jadi saya pulang dari Jepang, mau lihat Krisyanto. Tiketnya nanti beli langsung, mudah-mudahan ga keabisan, saya rindu sekali lihat Jamrud main," terang Ipung. (kpl/buj/sjw)

Krisyanto Hafalin Lagu Sampai Jam 4 Pagi


Krisyanto


Krisyanto Hafalin Lagu Sampai Jam 4 Pagi


Kapanlagi.com - Krisyanto mengaku kaget saat diajak untuk bergabung di Urban Jazz Crossover 2011. Pasalnya lagu yang diberikan oleh Viky Sianipar bukan sesuai dengan karakternya. Vokalis Jamrud ini mengira jika ia akan membawakan lagunya sendiri."Awal saya menerima job ini kaget sekali, pas disodorin lagunya saya bilang enggak salah nih karena saya disodorin lagunya Afgan dan lagunya Iwa K, saya pikir awalnya bawain lagu sendiri," paparnya.
[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]
Namun setelah dijelaskan oleh Viky akhirnya, Krisyanto bisa mengikutinya. Dia merasa senang dengan tantangan yang diberikan oleh Viky.
"Saya bersyukur ini tantangan tapi Viky bilang vokal lu aja jangan berubah," ujarnya saat dijumpai di studio Viky Sianipar di Manggarai, Jakarta Pusat, Selasa (18/10).
Terbiasa dengan genre rock, membuat Krisyanto harus beradaptasi dengan beat-beat jazz yang selalu berubah-ubah. Bahkan untuk menghafalkan lagu dia harus bisa mengepaskan dengan nada musiknya.
"Di lagu Rumah Kita awalnya biasa main piano tapi tiba-tiba tengahnya main swing. Ini ngehapalinnya sampai jam empat pagi, tapi lumayanlah sudah dua kota agak nempel. Kalau rock simple biasa dengan distorsi dan nadanya rata, tapi ini berbeda dengan membawakan lagu yang diubah total sama Viky," pungkasnya. (kpl/gum/faj)

Krisyanto Jamrud Tertantang

Bawakan Lagu Afgan


Krisyanto



Krisyanto Jamrud Tertantang Bawakan Lagu Afgan
Krisyanto


Kapanlagi.com - Vokalis band cadas asal Kota Cimahi, Jawa Barat, Jamrud, Krisyanto, mengaku deg-degan dan tertantang saat ditawarin untuk menyanyikan lagu jaz dari penyanyi Afgan pada acara Magnum Filter Urban Jazz Crossover."Saat itu, produser Log Zhelebour menawari saya tur lima kota, lalu saya terima saja. Tapi saya kaget ketika saya harus membawakan lagu jazz. Dan di list lagunya itu disuruh bawain lagu dari penyanyi Afgan di tur ini. Saya kaget karena karakter Afgan itu pop dan masih ABG," kata Krisyanto, di Bandung, Senin (31/10/2011).
Menurut pelantun lagu Pelangi di Matamu ini, membawakan lagu pop atau jazz di acara Magnum Filter Urban Jazz Crossover tidaklah mudah karena ada beberapa aturan yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar saat membawakan lagu pop.
"Kalau musik rock itu kan gampang tinggal berteriak jadi. Tapi kalau saya harus bernyanyi lagu pop itu ada aturannya, nafasnya harus ditahan dan lain-lain," ujar Krisyanto.
Ia menuturkan, rasa tegang dan was-was semakin menjadi saat dirinya memasuki sesi latihan membawakan lagu jazz bersama komposer muda Viky Sianipar untuk acara Magnum Filter Urban Jazz Crossover.
"Saya tegang juga, apalagi saat coaching sama Viky Sianipar. Musiknya diubah semuanya sama Viky," kata Krisyanto.
Dikatakannya, selama mengikuti rangkaian tur di tiga kota sebelumnya pada acara Magnum Filter Urban Jazz Crossover, ia mendapatkan banyak pelajaran tentang musik.
"Saya sekarang insyaf kang, bahwa musik itu luas. Awalya saya memakai kacamata kuda dalam musik tapi setelah ikut Magnum Filter Urban Jazz Crossover, saya jadi terbuka. Dan saya tidak boleh mengkotak-kotakan musik," katanya.
Sementara itu, Manager Markateing Public Relation PT HM Sampoerna Tbk Augustine Leony menuturkan, selain Krisyanto, sejumlah musisi lainnya seperti David Naif, Ari Lasso, Once, Firman Idol, Ras Muhammad, Syaharani, Ira Swara dan penyanyi wanita pendatang baru Raisa, akan memeriahkan acara Magnum Filter Urban Jazz Crossover yang akan digelar di Hotel Hilton Bandung pada 4 November 2011.
Augustine mengatakan, Magnum Filter Urban Jazz Crossover merupakan pagelaran musik multi gendre namun dibuat dalam konsep berbeda untuk menghasilkan tampilan segar dan variatif. (antara/dar)

Azis: Krisyanto Masih Punya Taring di Jamrud


Krisyanto



Azis: Krisyanto Masih Punya Taring di Jamrud


Kapanlagi.com - Kehadiran Krisyanto sebagai vokalis Jamrud memang menjadi magnet tersendiri di mata Jamers. Di mata Azis Jamruf, pengaruh Krisyanto membawa influence yang positif untuk Jamrud.
Menurut Azis, kembalinya Krisyanto ke pangkuan Jamrud menarik respon tinggi dari individu-individu Jamers. Kebanyakan dari mereka menilai hal ini sebagai kabar baik yang patut dirayakan.
"Oh iya sejak Kris gabung lagi khan sempat jalan ke Bali. Nggak bisa dipungkiri, Jamers yang fanatik tak peduli siapa pun penyanyinya. Nggak cuman individu, jauh banget memang responnya. Kita pertama kali main aja mereka masih mau. Dan promosi yang mepet juga tapi udah dua jam," terang Azis saat ditemui hotel Equality, Yogjakarta pada Minggu (8/4).
Penampilan Krisyanto bersama Jamrud dalam konser Win Mild Rock Reborn di stadion Kridosono, Yogjakarta menjadi buktinya jurus ampuh yang dimiliki Krisyanto. Bahkan walaupun mereka baru tampil pertama kali pasca Krisyanto kembali ke pangkuan Jamrud, eksistensi Jamers masih tetap ada walaupun tidak dalam jumlah yang sangat besar.
"Kalau dibilang puas. Kita sempat konser lebih gila lagi. Ini awal yang baik bukan berarti kurang sukses kayak lumayan. Karena kita ratusan main. Ini 8000 dan 3000 untuk yang ini cukup puas karena ini awal yang baik. Nggak terlalu aktif mereka masih mau datang berbondong-bondong. Kita belum keluarin hits yang baru. Eh, karena orang nggak bisa mengharapkan yang hits," papar Azis.
"Mereka sudah rindu dengan konser rock bukan yang boyband pop... Mereka rindu tata lighting dan soundnya konser rock," sambung Krisyanto. (kpl/buj/ris)

Win Mild Rock Reborn, Jamrud Belum All Out

 

Jamrud


Win Mild Rock Reborn, Jamrud Belum All Out
Azis Jamrud



Kapanlagi.com - Tampil garang dan atraktif di konser Win Mild Rock Reborn, di stadion Kridosono Jogjakarta, grup band Jamrud merasa perlu angkat topi untuk Jamers Jogjakarta. Menurut Azis sang gitaris, Jogja yang apresiatif dan damai sangat berbeda dengan kota-kota lainnya. "Ya, kita main di Jogja bukan sekali, udah sering. Tapi di sini nggak ada gesekan antar penonton. Jogjakarta memang paling apresiatif. Berbeda, lah," ujar Azis saat di Hotel Equality, Jogjakarta (08/04) dini hari.
Lebih lanjut, Azis menuturkan, penampilan Jamrud belum all out karena banyak lagu-lagu hit Jamrud yang tidak dimainkan seperti Pelangi, Sydney, Baywatch, Jauh dan lain-lain.
"Jamrud terlalu banyak hitnya. Bukannya sombong ya, seperti Baywatch, Pelangi, Sydney, Jauh. Kalau kita mainkan mereka bisa pelukan di lapangan. Baru dengar intro udah kesurupan, bisa main 5 jam," tukas Azis. (kpl/buj/rea)


 


Jamrud: "N yo l e k" Penyanyi Korea
Di tengah gelombang K-Pop, grup rock Jamrud pun mengutip sekelumit nuansa Korea. Jamrud cukup peka menangkap realitas di luar panggung rock. Mereka mengakomodasikan rasa K-Pop itu dalam lagu ”Ciat” pada album terbarunya, Energi+Dari Bumi dan Langit. Pada bagian lagu tersebut dimasukkan sentuhan house music atau electric pop yang mereka anggap mewakili nuansa K-Pop. Akan tetapi, rasa rock masih kenceng.
Lagu berlirik komikal itu berkisah tentang seseorang yang dihajar orang gara-gara ”nyolek penyanyi Korea”.
Dan rupanya lagu baru tersebut mendapat respons seru di panggung rock. Itu terlihat pada konser Jamrud di Stadion Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (5/5) malam, yang dipadati sekitar 7.000 penonton.
Jamrud berawak Azis Mangasi Siagian pada gitar, Ricky Teddy (bas), Krisyanto (vokal), Danny Rachman (drum), dan Mochamad Irwan (gitar). Band Edane yang digawangi gitaris Eet Syahrani menjadi band pembuka. Stadion sepak bola itu bagaikan arena pesta rakyat. Orang bergembira dengan musik rock yang keras. 
Panggung memang menjadi lahan penghidupan band rock. Akan tetapi, tidak sembarang band yang bisa hidup di lapangan, terutama dalam urusan
menyedot penonton yang membeli tiket, maksudnya bukan tontonan gratis. Hanya band yang mendapat tempat di hati publik yang akan didatangi penonton.
Setidaknya itu menurut pengalaman Log Zhelebour dari Log Zhelebour Production yang menggelar konser Jamrud. Dengan alasan di atas, Log berani memanggungkan Jamrud ke sejumlah kota di Sumatera seperti Padang, Pekanbaru, dan Bandar Lampung, serta kota-kota di Kalimantan, seperti Singkawang, Balikpapan, Pontianak, Sintang, dan Banjarmasin.
”Rock itu dari dulu jayanya di panggung,” kata Log yang telah puluhan tahun menjual musik rock.
Jamrud malam itu terbukti menjadi milik penonton. Sebagian besar adalah pria. Itulah mengapa konser didukung produk rokok Win. Penonton
merespons seru, bukan saja pada lagu-lagu Jamrud yang telah populer seperti ”Berakit-rakit” atau ”Putri”, melainkan juga lagu-lagu dari album baru Energi+Dari Bumi dan Langit seperti ”Ciat” dan ”Sik Sik Sibatumanikam”, atau ”The Devil Wears Batik”. 
Responsif
Azis dan kawan-kawan yang berada di bawah manajemen Log Zhelebour Production cukup cerdik menyiasati hidup di panggung dan pasar.
Dalam membuat lagu, misalnya, Jamrud berorientasi pada panggung. ”Setiap membuat album, kami membayangkan bagaimana Jamrud membawakannya di panggung,” kata Azis.
”Saya tidak membayangkan mereka (penggemar) meraungraung sendiri di kamar, ha-ha-ha,” seloroh Azis.
Unsur komunikatif menjadi pertimbangan penting. Mereka tidak sekadar menyenangkan penonton, tetapi juga membuat awak band nyaman membawakan lagu. ”Kami bikin supaya Jamrud sendiri juga enjoy. Kalau kami tidak menikmati, mainnya akan kosong, enggak ada rohnya. Kalau kami enjoy, penonton juga akan menikmati. Jadi, roh (lagu) juga harus dapet,” kata Azis.
Jamrud, ketika dibentuk, adalah band yang berorientasi pada rock keras yang oleh Azis disebut berjenis hard core. Di panggung, rasa hard core bisa lebih dipacu, dipuaskan. Sementara di pasar, ukuran kerasnya rock itu rupanya perlu ditakar ulang. Di ranah industri ada rumus-rumus yang berbeda dengan panggung. Kepuasan awak band tidak sepenuhnya bisa dimanjakan. Untuk bertahan hidup di dua lahan tersebut, Jamrud cukup bijak memilah antara idealisme dan urusan pasar.
Idealisme bagi Log bukanlah membuat ”barang gampang” menjadi ruwet atau ”keriting”.
Bagi produser seperti Log, yang lebih penting adalah bagaimana menyelaraskan idealisme musisi dengan realitas sosial tanpa merendahkan kualitas musikal dan selera. Rumusan tersebut digunakan Jamrud pada album Terima Kasih (1998). Pada album itu, Jamrud membuat lagu dengan karakter musik berbeda. Lagu ”Otak Kotor” dikemas dengan jenis musik ska. Sementara lagu ”Berakit-rakit” disuguhkan dalam balutan metal yang keras. Lagu ini sering menjadi lagu pembuka konser Jamrud. Lain lagi dengan ”Terima Kasih” yang berupa balada.
”Tiga karakter lagu yang berbeda itu untuk merangkul lebih banyak pencinta musik,” kata Log yang mengaku sebagai pencinta tulen musik rock.
Jurus Jamrud itu terbukti sukses pada album Ningrat (2000) yang memuat lagu kondang, seperti
”Pelangi di Matamu” dan ”Surti Tejo”. Log mengakui, dengan pilihan lagu yang variatif, omzet penjualan album fisik semakin lebar. Album Ningrat disebut Log terjual sampai 2 juta kopi. Album sebelumnya, Putri, ”cuma” laku 300.000 kopi. Dengan formula kompromistis tersebut, Jamrud juga bisa leluasa masuk televisi yang cenderung menampilkan band pembawa lagu pop atau pop-rock.
Kini Jamrud secara kreatif merespons pasar dengan lagu ”Ciat”. Mereka juga mengakomodasi elemen etnis dalam rock pada lagu ”Sik Sik Sibatumanikam” dengan intro seperti musik tortor dari Tapanuli, Sumatera Utara. Di panggung, lagu itu dibawakan dengan gaya tortor pula. Sisa-sisa rasa rock keras masih ada. Kini malah ditambah dengan unsur ska. Lagu semacam ini menjadi atraktif di panggung.
Unsur etnis pernah digunakan Jamrud dalam lagu ”Ningrat”. Ada sekelumit nuansa Jawa lewat suara gamelan. Sekadar info, lirik lagu ”Ningrat” berlatar lanskap keluarga Jawa.
Dengan cara itu, Jamrud bisa bicara di pasar dan panggung rock. (XAR)